Dari Pinggiran Jalan Hingga Rel Kereta

Minggu, 29 April 2012
***
Dengan menenteng kantong plastik berisi makanan dan susu kemasan, pagi itu kami mulai begerak menyusuri beberapa jalan di kota Bandung. Sekadar berbagi dan berusaha membantu, sesederhana itulah niat kami – membantu anak-anak jalanan melepas rasa lapar mereka di pagi itu.

Awalnya kami hanya berencana untuk membagikan makanan ini khusus kepada anak-anak jalanan saja, yaa, termasuk juga kepada ibu yang turut berada di jalanan sambil menggendong bayinya. Namun, di pagi itu kami hanya berhasil menemui sedikit sekali jumlah mereka. Padahal, kami sudah mengelilingi tempat-tempat di mana kami sering atau pernah melihat mereka. Mungkin memang benarlah bahwa hampir semua orang itu secara umum malas untuk keluar di pagi hari seperti ini (padahal sudah pukul setengah 8 pagi lewat), apalagi di akhir pekan. Akhirnya, kami pun memutuskan untuk memberikannya tidak lagi hanya kepada anak2 saja, melainkan kepada setiap orang di jalanan yang membutuhkan (pemulung dan pengemis).
**
Dari kejauhan kami melihatnya, tertidur pulas di atas kursi batu di pinggir jalan dengan karung plastik andalannya menempel erat. Tak tega membangunkannya hanya demi sebungkus nasi, seorang dari kami pun berinisiatif meletakkan sebungkus makanan tadi tepat di dekatnya. Bak sebuah hadiah yang datang ntah dari mana, demikianlah kami harapkan nantinya saat bapak itu bangun dan menemukan sebungkus makanan tadi berada di dekatnya. Yaa, syukur2 makanan tadi masih berada di situ saat dia bangun – tidak terjatuh misalnya saat dia tidak sengaja menyenggolnya..

like a gift coming from nowhere…

**
Tak jauh berjalan dari bapak yang tadi, tepat di sebuah tempat sampah di seberang jalan kami berdiri, kami melihat seorang lelaki. Sambil menunduk dia mengorek-ngorek tempat sampah itu. Tak akan kami tahu pasti apa yang dilakukannya bila temanku tidak berinisiatif melihatnya secara lebih dekat. Dengan posisi jongkok membelakangi kami, ternyata dia sedang makan sisa-sisa makanan yang berhasil ditemukannya dari tumpukan sampah-sampah itu. Sungguh tak tega melihatnya.

Sebungkus makanan dan susu pun segera diberikan temanku kepada pria itu. Awalnya kami mengira dia semacam mengalami “gangguan”, tapi ternyata kami salah sama sekali. Sungguh piciknya pikiran ini. Ternyata dia jauh lebih dari itu, lebih besar hati dari aku juga mungkin. Aku tak akan lupa ekspresinya setelah menerima bungkusan makanan itu. Sambil tersenyum dia berkata: “Wow. Saya dapat rejeki hari ini. Saya sangat beruntung sekali.

Wow.. Saya dapat rejeki hari ini. Saya sangat beruntung sekali…

**
Hampir dua jaman lebih kami mengelilingi sekitaran daerah Djuanda, Merdeka, Riau, hingga Gazibu, tapi makanan yang kami bawa masih sisa cukup banyak. Sang pemimpin rombongan kami pun memutuskan untuk pindah ke daerah lain, yakni ke daerah sekitar rel kereta api di Kiaracondong.

Betapa kita tahu di tiap persimpangan jalan di kota ini banyak pengamen, demikian jugalah yang kami temui di salah satu persimpangan jalan menuju Kiaracondong. Dengan makanan yang siap dibagikan ada pada kami, kami sudah berencana untuk memberikannya sebagai pengganti uang. Bila dihitung-hitung, nominalnya jauh lebih besar daripada recehan yang biasa kita berikan pada pengamen. Namun ternyata, pengamen tadi menolak tawaran sebungkus makanan yang kami berikan. Bukankah mereka mengamen untuk mencari makan? Nah, ini dah dikasih kenapa tidak mau ya, kami pun bertanya-tanya di sepanjang sisa perjalanan sebelum sampai ke tujuan…
**
Tiap daerah mempunyai ceritanya sendiri. Di Kiaracondong ini, kami sempat dikerumuni sekelompok orang yang tiba-tiba saja berdatangan sambil meminta makanan tadi dari kami. Awalnya kami hanya memberikan kepada seseorang saja. Namun, dia memanggil temannya yang berada di situ dan tak lama kemudian sekumpulan orang pun terbentuk. Bahkan aku sempat jengkel dengan seorang bapak yang seakan ngotot minta sebungkus makanan dariku padahal penampilan dia saat itu adalah sedang mengenakan headset sambil merokok dan sedang dalam proses membeli sesuatu. Tapi apa boleh buat, menolak untuk memberikan dalam keadaan yang kurang terkendali seperti itu sangatlah susah…
**
Di kejauhan di atas rel kami melihat sekelompok anak-anak kecil sedang bermain. Kami tak tahu apakah mereka anak jalanan atau tidak sehingga kami pun memutuskan untuk menyamperin mereka langsung. Semakin kami dekat, semakin kelihatanlah kalau mereka itu cukup terurus. Sepertinya anak-anak penduduk sekitar yang sedang bermain di atas rel, itulah asumsi kami. Dengan makanan yang masih tersisa pada kami, kami pun menawarkannya kepada mereka. Dan penolakan atas tawaran kami itulah yang kami dapatkan. Wajar, sebab dari kecil kita telah diajarkan untuk tidak menerima sesuatu dari orang yang tidak dikenal, apalagi bila itu makanan..

menyusuri rel kereta api…

**
Membawa seplastik makanan menyusuri jalanan di kota Bandung ini aku pikir adalah ibarat membawa karunia atau berkat atau kebaikan kita masing-masing dalam menyusuri perjalanan hidup ini. Saat menenteng plastik berisi makanan itu, semakin banyak yang aku beri kepada yang membutuhkan, semakin ringanlah rasanya bebanku dan aku merasa senang. Mungkin demikian jugalah halnya bila kita dapat berbagi karunia atau berkat atau kebaikan tadi kepada sesama yang membutuhkan.
***
Agus Praditya T
(dengan ucapan terima kasih kepada teman-teman Angels Assistant)
sumber : http://watergius.wordpress.com/

One thought on “Dari Pinggiran Jalan Hingga Rel Kereta

  1. Ping-balik: Melewati Tahun Bersama Angel’s Assistant « Angel's Assistant

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s