Kisah Iqbal(10) dan Najla(6)

Minggu, 15 Juli 2012

Pagi itu, aku bangun jam 6 pagi. Ingat bahwa hari ini aku akan berangkat ke Nagrek, aku bergegas mandi dan langsung berangkat untuk belanja makanan dan susu ke salah satu supermarket di dekat rumahku.

***

Ya, hari ini aku sebagai perwakilan dari Angel’s Assistant, berniat mengunjungi rumah seorang anak bernama Iqbal. Sebenarnya orang tua Iqbal dulunya tetangga dekat rumahku, namun tidak lama setelah adiknya Iqbal (Najla) lahir, Iqbal dan keluarga pindah ke daerah Banjaran.

Foto Iqbal (kanan) dan Najla (kiri)

Cukup lama aku tidak mendengar kabar tentang keluarganya sampai satu saat salah seorang sanak keluarganya datang ke rumah dan mengabarkan bahwa Ibunda Iqbal menderita sakit keras, dan sedang kritis

Aku tentu saja kaget, Mba Sari, begitu aku biasa memanggilnya, masih muda, umurnya mungkin sekitar 34 tahun. Dan kabar kritisnya, seperti petir yang muncul siang hari.

Kami tidak pernah tahu bahwa ternyata selama ini, Mba Sari menderita penyakit paru-paru yang sudah parah. Badannya seperti digerogoti oleh virus yang menyerang tubuhnya sejak satu tahun lalu. Dan untuk biaya pengobatannya, keluarga sampai menjual rumah di Banjaran untuk kemudian pindah ke daerah Nagrek dan mengontrak sebuah rumah petak.Tidak ada kabar jelas dengan keberadaan suaminya. Ada yang bilang keluarga ini ditelantarkan ada yang bilang, suaminya kabur, ada yang bilang pernah pulang, tapi sekali sekali saja. Entahlah, yang jelas, demi kelangsungan hidup, keluarga ini hanya mengandalkan Iqbal (10) sang anak sulung untuk bekerja sebagai buruh cuci piring di pasar dekat rumah mereka di Nagrek.

Iqbal yang seharusnya menikmati bangku sekolah, terpaksa putus sekolah demi mencari makan untuk Ibu dan adiknya yang masih kecil. Kabar terakhir yang sampai ke telinga keluargaku, Iqbal dan Najla beberapa hari ini kelaparan semenjak Mba sari koma, dan Iqbal harus menjaganya di rumah.

Miris.

Itu yang aku rasakan saat itu. Aku langsung menceritakan ini kepada sahabat di Angels Assistant, dan kami sepakat untuk membawakan makanan untuk mereka, seperti yang hari ini akan kami lakukan.

Foto Ibu Sari (13 Juli 2012)

Foto Ibu Sari (15 Juli 2012)

***

Setelah berbelanja, dan kembali ke rumah untuk menjemput Ibu, jam 08.29 aku sampai di stasiun baru Kiaracondong.

“Mau kemana bu?” tanya satpam.

“Ke cicalengka, KRD..” jawab Ibu sekenanya..

“Wah udah mau berangkat bu, itu keretanya.. ayo bu cepetan lari…” si satpam menunjuk pada kereta di jalur 3.

Dan jadilah adegan ala film koboy di mana aku dan Ibu berlari mengejar kereta dengan membawa kardus yang cukup berat itu berusaha naik ke atas kereta, namun sayang di sayang, kami bukanlah spiderman yang sanggup lompat sana sini. Akhirnya kereta pergi dan kami tertinggal di stasiun.

*dadahh….

Cape, kami terduduk di kursi stasiun hingga dihampiri seorang karyawan stasiun. “Kalau mau ke cicalengka, ntar jam setengah sebelas ada kereta patas bu. Beli aja dulu tiketnya.” Katanya, dan kami pun berteriak kegirangan.

***

Setelah menunggu kurang lebih 90 menit di stasiun, kami akhirnya bisa berangkat. Perjalanan menuju Nagrek memang lumayan jauh. Setelah sampai di Stasiun Cicalengka, kami masih harus naik satu kali angkot lagi untuk menuju ke tempat tujuan. Tapi perjalanan itu, sama sekali tidak terasa melelahkan terlebih saat aku membayangkan wajah anak-anak itu saat kami datang.

Stasiun Cicalengka

Tepat tengah hari, kami sampai di rumah petak itu. Hanya ada sebuah kamar, dan kamar mandi kecil yang hanya ditutup oleh selembar kain saja. Dan yang membuat hatiku teriris adalah saat aku melihat kondisi Mba sari yang terbaring di atas kasur.

Badannya sangat kurus, nyaris tak ada daging sedikitpun. Yang kulihat, hanyalah tulang yang tertutup kulit saja. Nafasnya seperti orang yang kelelahan. Yang semakin membuat hatiku menangis, kami melihat hanya ada semangkuk kacang rebus untuk mereka makanan hari itu.

Iqbal belum pulang dari pasar saat kami datang. Tadinya aku berniat menyusul ke pasar, tapi katanya di sini agak rawan. Takut aku dijahati, lebih baik aku menunggu di rumah ini saja.

Sembari menunggu Iqbal datang, Ibu lebih banyak diam menemani Mbak Sari dan aku berbincang dengan Najla. Tak lupa menyerahkan sumbangan boneka yang kami terima waktu itu. Najla langsung kegirangan dan memeluk bonekanya sambil minta aku memotretnya.

Najla terlihat senang bersama dengan boneka barunya😀

Tak lama Iqbal pun datang dengan membawa satu plastik bungkusan. “Eh Iqbal, baru pulang?” tanyaku.

“Iya, capek euy..” katanya sambil menyalamiku.

“Itu bawa apa?” aku bertanya lagi, penasaran mengetahui isi bungkusan yang dibawanya tadi.

“Oh ini, ada gorengan, kupat tahu, sama kerupuk, dikasih tadi buat makan di rumah. “Jawabnya sambil memijat tangannya sendiri.

Aku mengangguk. Nggak sanggup bertanya lebih dalam. Hanya bisa melihatnya yang kecapean. Sampai aku sadar akan tujuanku datang kemari.

“Oh iya bal, ini ada temen temen aku yang nitip makanan buat Iqbal, Najla,sama Mama. Ada juga yang nitip buku. Kan katanya Iqbal mau sekolah lagi ya?” aku menyodorkan kardus berisi makanan dan buku itu kepadanya.

Dia terheran.

“Temen temennya mana mbak?” tanyanya

“Nggak ikut, soalnya ga tau jalan mau kesini. Emang kenapa Iqbal nanyain temen temen aku?”

“Ngga papa, kirain dateng juga, jadi saya bisa bilang makasih” ungkapnya dengan logat sunda yang sangat kental.

Berpikir sejenak, akhirnya aku menawarkan dia untuk menulis di sebuah kertas. “Pake kertas aja bal kalo mau bilang makasih, ntar aku yang sampein, mau ga?”

Dia mengangguk.

Iqbal sedang menulis ucapan terima kasih (1)

Iqbal sedang menulis ucapan terima kasih (2)

Iqbal sedang menulis ucapan terima kasih (3)

Iqbal sedang menulis ucapan terima kasih (4)

Ucapan terima kasih Iqbal untuk para donatur Angel’s Assistant

Tak terasa waktu cepat berlalu, sudah satu jam kami berada di sana.  Dan sudah waktunya kami pulang, karena harus mengejar jadwal keberangkatan kereta ke bandung.

Kami menyalami Ibunda Iqbal, mendoakannya, memberinya semangat untuk sembuh. Kami juga berpamitan kepada Iqbal dan Najla. Bantuan yang kami bawa hari itu memang nggak banyak, tapi kami berharap, setidaknya bisa sedikit membantu mereka. Sampai ketemu lagi yaa.. semoga kita diberi kesempatan untuk berjumpa lagi. Kamu anak yang hebat Iqbal! Saya bangga Indonesia punya anak yang berbakti pada orang tua sehebat kamu. Jangan putus asa. Tuhan punya rencana Indah di balik semua ini dan aku percaya kamu akan jadi orang besar suatu hari nanti.

God Bless You!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s